July 28, 2011

Wejangan Dewa Ruci

.......
termangu sang bima di tepian samudera dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis
tak ada lagi tempat bertanya

sesirnanya sang naga nemburnawa dewaruci, sang marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan, tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada dan mustahil akan pernah bisa ditemukan oleh manusia mana pun.

mendekat sang dewa ruci sambil menyapa:
‘apa yang kau cari, hai werkudara, hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini
di tempat sesunyi dan sekosong ini’

terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri setelah melihat sang penanya ia bergumam:
‘makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?

serba sunyi di sini, lanjut sang marbudyengrat mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya

sang sena semakin termangu menduga-duga, dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa. Ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku. entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini. dan siapa sebenarnya diriku ini

ketahuilah anakku, akulah yang disebut dewaruci, atau sang marbudyengrat
yang tahu segalanya tentang dirimu anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma, anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu, dan
janaka. yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri
mandraka. datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang durna untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini

bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya agar tidak mengalami kegelapan seperti ini terasa bagai keris tanpa sarungnya

sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup ingatlah pesanku ini senantiasa
jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu, jangan menyuap sebelum mencicipnya.
tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, sesuatu terwujud hanya dari tindakan. janganlah bagai orang gunung membeli emas, mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan

duh pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba bertindak tanpa tahu asal tujuan
sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka.

nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku. lanjut sang marbudyengrat

sang sena tertegun tak percaya mendengarnya; ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya
paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit kelingking pun tak akan mungkin muat.

wahai werkudara si dungu anakku, sebesar apa dirimu dibanding alam semesta?
seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku, jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.
mendengar ucapan sang dewaruci sang bima merasa kecil seketika, dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruci yang telah terangsur ke arahnya

heh, werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya segala yang kau saksikan di sana

hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena
alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang

janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci
yakinilah bahwa di setiap kebimbangan senantiasa akan ada pertolongan dewata
dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya
setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.

heh, sena! ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan!

awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena
kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih.
apakah gerangan semua itu?

ketahuilah werkudara,
cahaya terang itu adalah pancamaya,
penerang hati, yang disebut mukasipat,
penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih.

cahaya empat warna, itulah warna hati
hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal,
hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki.
hanya si putih-lah yang bisa membawamu
ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam,

namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain
hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi.
hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma.

adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan
di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.

duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu
setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna,
ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala
berkobar.

itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih
semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan.
sering disebut jagad agung jagad cilik
dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih
seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu,
tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,
akan tampak bagai lebah muda kuning gading
amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku

semakin cerah rasa hati hamba.
kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar.
warna sejatikah yang hamba saksikan itu?

bukan, anakku yang dungu, bukan,
berusahalah segera mampu membedakannya
zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat,
tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini.
sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana
yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di pepohonan
ia tidak ikut merasakan lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya.
dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati,
ialah yang merawat raga
tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.

pukulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba
lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?

itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang dewa ruci, gampang-gampang susah
sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar dari
tempat ini
serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.

itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai werkudara
mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri
setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan
dari segala
goda,
di saat itulah sang suksma akan menghampirimu,
dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati
janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api,
bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu
perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka
jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini
jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur

pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini
pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara,
yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati
hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu
tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.

maka habislah wejangan sang dewaruci,
sang guru merangkul sang bima dan membisikkan segala rahasia rasa
terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan
bagaikan kuntum bunga yang telah mekar.
menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta

dan blassss . . . !
sudah keluarlah sang bima dari raga dewaruci sang marbudyengrat
kembali ke alam nyata di tepian samodera luas sunyi tanpa sang dewaruci
sang bima melompat ke daratan dan melangkah kembali
siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan
.....

(dari blog tetangga:http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2009/03/wejangan-dewa-ruci.html)

July 16, 2011

Kehilangan

Ssssttttt.... Aku sudah tau...
aku akan kehilangan.
Kusiapkan batin atas apa yang tak bisa ku elakkan...masih.

Aku lemah mengasihani diri,
serasa tak bisa bernafas sendiri.

Isi hidupku ini hanya ilusiMu untuk mengerjaiku...
arrrgghhh... aku marah.

Ikat saja aku Tuhan pada tiang di tengah nyala api...
Didik aku dengan keras sampai aku...
berhenti menghujat,
berhenti berteriak,
berhenti menangis,
berhenti berontak,
berhenti mengamuk dan bersumpah serapah...
Ikat saja aku...
Sampai aku bermandikan keringat...
gemetar karena tangisan...
pusing dan meratap...
lemas dan kehausan...
serak dan kelelahan...

Jangan mengasihani aku...
Sampai ikhlasku ditumbuhkan dan dimeteraikan...

Kenapa aku harus kehilangan???
dia mengasihiku
aku juga mengasihinya
dia semangatku,
aku ini gairah hidupnya...
takkah itu mengubah keputusanMu...

Tak bisa tak histeris atas keputusanMu...
Meski pada titik lelahku kukatakan:
ya sudahlah...
ya biarlah...
aku memang tak memilikinya
seperti aku tak memiliki ragaku

Ambil raganya, jauhkan seperti mauMu!!
tapi Kau takkan bisa ambil jiwanya..
Jiwanya memilih ada disisiku
menemaniku dalam setiap doa
menguatkanku dalam derita

sebenarnya kami terikat karenaMu
takkah Kau menyadarinya??
maafkan aku..
hari ini aku melawanMu
hanya tuk mengasah kedewasaanku
Brilah aku kelegaan..
Sang Hyang Widhi.. truly deeply I love U

June 24, 2011

Perempuan dan kebahagiaan

Itulah kenapa aku harus bahagia
seperti kamu berbahagia

perempuan..
pernahkah kau menginginkan sebuah gaun yang begitu indah
tapi gaun itu tak lagi indah saat kau telah memilikinya..
semua tetap akan seperti itu sampai bumi ini runtuh
haruskah kita tak bahagia.. karena dia tak berhenti berlari

Bahagia itu harus dipaksa
dimunculkan dari dalam hati
it’s ok... tak selalu begitu

Tak semua kata hati boleh dipenuhi
tak semua keinginan benar dituruti
it’s ok... tak mutlak juga begitu

Nurani tak pernah salah
tapi kebijaksanaan adalah penghadang
mereka berdiri di ujung yang berlawanan
okelah... tak selamanya seperti itu

senyuman manja, mata bercahaya, kata-kata lembut nan sayu
.....
didalamnya penuh beban tak terdefinisi dan tak mungkin dibagi
perih hati dan air mata adalah sahabat sekaligus pasangan jiwanya
itulah wajahmu... perempuan

tiap butir bahagia dilepaskan asalkan sang curahan hati terselamatkan
benih ketenangan dikorbankan asalkan sang mentari dapatkan kedamaian

perempuan... siapkan lagi hatimu
toh kekecewaan adalah nafasmu
kesedihan adalah darahmu
masukkan saja ke panci lalu dibumbui
kita masak sendiri kebahagiaan itu

biarlah tak termiliki
biarkan tetap indah
disitulah bahagia sejatimu kau dapatkan

Astungkara
Dominus Vobiscum

June 22, 2011

Kura-kura Bangli (Flashfiction2)


“Luh...”
“Ya Pak Yan... “, Luhde menjawab panggilan lembut Pak Wayan, ayah angkatnya yang dulu menemukannya dalam kondisi mental yang hampir rubuh. Pak Wayanlah yang membimbing Luhde menemukan semangat dirinya lagi setelah suatu peristiwa yang menghempasnya dari kesadaran.

“sedang apa Luh? Sudah mulai gelap... sebaiknya kaulanjutkan di dalam semua keasyikanmu itu, hari ini anginnya kencang, sepertinya lampunya juga perlu diganti.... redup sekali disini?” ujar Pak Wayan sambil melongokkan separuh badannya ke teras melalui jendela ukiran kayu di ruang tamu.

“iya.. sebentar lagi Pak Yan... tadi pagi Bli Nyoman mengajariku membuat patung... aku penasaran, sepertinya gampang dan menyenangkan... aku harus bisa buat mahakarya seperti Bli...” Luhde menjawab sambil senyum-senyum sendiri melihat seonggok kayu albesia di genggamannya... badannya tak bergeming tetap terduduk di lantai abu-abu teras yang mulai terasa dingin di kakinya.

“memangnya apa yang kaubuat?... patung kodok ya?” gurau pak Yan

“hahaha... sebenarnya ini kura-kura... tapi kalau kelihatan seperti kodok ya lumayanlah” celetuk Luhde sambil tetap asik dengan alat pahatnya.

---o0o---

Dua tahun telah beranjak sejak waktu itu, Luhde telah kembali khusuk dalam kehidupan Metropolitan... desa Susut Bangli dan Pak Wayan tampaknya sudah jauh dibelakang. Patung kayu kura-kura nan mungil ditinggalkan tergantung pada pohon beringin di dekat Pura keluarga, disamping rumah sederhana Pak Yan.
Sejak meninggalkan rumah Pak Yan dua tahun lalu, Luhde menitipkan patung kura-kura mungilnya pada Pak Yan... waktu itu Luhde berpesan “Pak Yan, kura-kura ini lambang semangat dan kesadaran saya... kalau tidak ada kura-kura ini jiwa saya hampa, semangat saya kering, saya tak punya cinta lagi untuk dicurahkan... saya titipkan disini saja, kelak kesinilah saya akan pulang”, dan waktu itu Pak Yan hanya menjawab dengan senyuman penuh kasih sayang.

Sejak hari itu semangat Luhde berkobar-kobar, kura-kura yang dibuatnya dengan jiwa itu adalah curahan hatinya, kura-kura itu menjadi sugestinya untuk mencapai ketenangan dan kepenuhan batinnya. Setiap bulan Luhde menyempatkan menelpon pak Wayan menanyakan kura-kuranya. Jawaban Pak Wayan selama dua tahun ini hampir selalu sama... kata beliau “Luh, kura-kuramu baik-baik saja dan semakin hari tampak semakin indah...”

Seperti biasa di suatu sore, ditengah keruwetan pekerjaan Luhde di perusahaan konstruksi di Metropolitan, kadang hatinya lelah, pikirannya penat menghadapi manusia-manusia penuh konflik dan kepentingan.. satu hal yang mungkin bisa menghiburnya... diraihnya telepon dari dalam tasnya...
“Om Swatiastu Pak Yan....”
“Om Swastiastu Luhde... apa khabarmu?”, sambut pak Yan diseberang telepon
“Baik pak Yan... apa kabar Komang dan ibu... sehat semua kan?” balas Luhde
“Semua baik Luh termasuk kura-kuramu... Komang naik kelas 4 nilainya lumayan bagus, pekerjaanmu lancar Luh?” tanya Pak Yan.
“hahaha Pak Yan tau saja saya mau tanyakan si kura-kura... masalah pekerjaan ya beginilah Pak Yan, saya hanya jalani dengan tenang, berusaha melepaskan jauh-jauh segala kekhawatiran... saya dapat semangat ekstra dari si kura-kura... rasanya pahatan kura-kura itu jadi jetpump menghempaskan energi Sang Hyang Widhi ke tubuh dan jiwaku”
“Baik sekali kalau Luhde bisa menjaga kesadaran dan ketenangan, pertahankan... sang Hyang Widhi tak pernah putus mengirimmu kekuatan... percayalah seperti itu.. kapan Luhde pulang ke Bangli... ibumu dan Komang sudah kangen... nasi campur juga sudah menunggu...? kata Pak Yan dibarengi tawanya yang renyah..
“Akhir bulan ini Pak Yan.. tunggu Luhde ya... oke kalo begitu pak Yan, sampe ketemu... Swastiastu..”
“Sampe ketemu Luh, Swastiastu..”

---o0o---

pesawat Garuda Indonesia dengan rute Jakarta-Denpasar mendarat di Ngurah Rai tepat pukul 15.40 WITA. Bli Nyoman keponakan Pak Wayan tampaknya sudah cukup lama menunggu mendaratnya pesawat yang ditumpangi Luhde. Setelah hampir setengah jam menunggu bagasi akhirnya mereka telah berada pada jalur menuju Bangli.. tujuan tepatnya ialah 10 km arah Barat kota Bangli, desa dimana pak Wayan dan keluarga mungilnya tinggal.

Hari sudah petang ketika mobil Bli Nyoman memasuki pelataran rumah Pak Wayan yang terbilang luas. Suara mobil Bli Nyoman tampaknya menghamburkan seisi rumah untuk bergegas keluar menyambut Luhde... Pak Wayan dan istrinya serta si kecil Komang.

Gandengan tangan mungil Komang dan loncatan-loncatannya yang ceria menuntun Luhde menuju teras dan langsung disambut pelukan bu Yan serta tepukan hangat Pak Yan di punggung Luhde.
Sembari melangkah memasuki ruang tamu, tanpa sadar sudut mata Luhde menatap keganjilan di Pura keluarga yang berada di halaman samping rumah... sekejap Luhde berhenti melangkah dan tertegun... dalam kebingungannya Luhde bertanya lirih
“Pak Yan kemana pohon beringinnya?”
Pak Wayan menghela nafas pendek dan akhirnya bercerita, “Luh tiga bulan sejak kepulanganmu dari sini waktu itu, cuaca menjadi kurang baik.. angin kencang dan petir menyambar-nyambar mematahkan sebagian besar ranting pohon beringin... dan demi keamanan akhirnya semua pohon beringin dipotong... lihatlah disana sudah ada pohon beringin yang baru meski masih kecil...”
“kura-kuraku?” sahut Luhde...
Sejenak semua hening.. Pak Yan dan Bu Yan saling bertatapan memendam kebingungan dan kesedihan... akhirnya Bu Yan membuka suara..
“Luhde, kura-kuramu sudah kami cari pada saat kejadian itu, bahkan orang yang membereskan beringin yang tumbang itu pun sudah ikut mencari semua... kura-kuramu tidak ditemukan Luh..”

semua terasa berdengung di telinga Luhde... kata-kata Bu Yan yang agak terbata-bata lenyap dalam kekalutan hatinya... airmatanya mengalir, tangannya mulai dingin gemetar..
“kenapa... kenapa Pak Yan selalu bilang kura-kuraku baik-baik saja”... suara Luhde lirih bergetar
“kura-kuramu memang baik-baik saja di suatu tempat yang kita tidak tahu Luh... percayalah itu.. lihatlah selama ini Luhde semakin kuat dan tenang... Luh.. nyata atau tidak nyata kura-kura itu memang ada di hatimu dan hatimu yang telah sepenuh jiwa membentuk kura-kura itu menjadikan kura-kuramu mengirimkan kekuatan padamu... semua kekuatan itu berasal dari Sang Hyang Widhi, suatu saat kau akan mengerti bahwa hanya dengan memiliki kura-kuramu dalam hati saja itu sudah cukup bisa membuatmu tegar dan dipenuhi energi Ilahi...” jelas Pak Yan dengan tenang.
Luhde kian terisak, dalam isakannya dia berkata.. “Pak Yan... saya belum siap tanpa kura-kura itu..” Pak Wayan kembali menghela nafas sebelum akhirnya berkata lagi “ Luh... selama 1 tahun lebih kura-kura itu sudah tak ada lagi wujudnya, dan Luhde baik-baik saja bukan?.. bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya... engkau sendirilah yang telah mewujudi patung kura-kuramu... jika hatimu belum siap... teruslah memberi wujud bagi curahan perasaanmu itu, puaskanlah hatimu Luh... Sang Hyang Widhi penuh kasih... pahatan kura-kura itu hanyalah katalis, sebenarnya kekuatan itu telah ada padamu sejak dulu....” Luhde berusaha menghentikan isakannya dan memaksakan diri menenangkan batinnya... “biarkan saya sendirian... saya ingin sembahyang di Pura” lanjut Luhde sambil masih mengusap air matanya...
Tanpa kata-kata lagi Pak Yan, Bu Yan, Bli Nyoman dan Komang yang sedari tadi duduk saja dengan berkaca-kaca masuk ke dalam rumah... mereka menatap haru dan membiarkan Luhde sendirian berjalan gamang menuju Pura.


Jakarta, 22 Juni 2011
Written by: Cicillia Rosari M (Luh Made)

June 6, 2011

Naif

Betapa naifnya aku
selalu pilu mengharu biru
menginjak habis kesadaranku
membuat malu semua Guruku

Harusnya aku tak berhenti bernafas
menghisap dalam-dalam kebahagiaan
menghembuskan kuat-kuat kesesakan

Mengembalikan pikiran pada kesadaran
dan melihat betapa bodohnya semua kecemasan

Astungkara