kalau aku rindu
....
aku nyalakan dupa
kudendangkan mantra-mantra
kututup kedua mata
bersimpuh pasrah menghadapNya
lalu....
aku hanya bernafas
melampiaskan kerinduan
Sang Hyang Widhi
kugantung rinduku padaMu
agar tak berat lagi pundakku
semoga rinduku terbaca
semoga rinduku tersampaikan
Sang Hyang Widhi
hanya Engkaulah sumber ketenanganku
Sarve bhadraani pashyantu
Maakaschit duhkha bhaag bhavet
Om Shanti Shanti Shanti Om
May 27, 2011
May 22, 2011
Anak pada Bapa

aku tersungkur di kakiMu Bapa...
ternyata tak kuasa tak meminta...
aku penuh kelemahan
kadang salah perhitungan
sangkaku sanggup tak meminta
tapi aku tetap anak..
dan Engkau tetap Bapa
Engkau mengasihiku
tak biarkanku tak meminta padaMu
Kau sentuh titik lemahku
dan buatku berlutut padaMu
Bapa... pada akhirnya ku meminta
abadikan dia bersamaku
ada maupun tiada
nyata ataupun tak nyata
rasa dengan rasa
jiwa dengan jiwa
kasih tak terbelenggu dunia
cinta tak terbelenggu raga
Bapa, pertimbangkan pikirku
sperti Kau buat ini terlintas dihatiku
Kau satu-satunya harapan
yang kan membendung air mata
bila hati dan pikirku tlah kalut membiru
May 20, 2011
Gerhana
Gerhana...
Sesaat matahariku hilang
tiba-tiba dan begitu saja
Aku sesak..
tenggorokanku kering tercekat
udara berhenti mengaliri darahku
menghentikan detak jantungku
Aku histeris tak kuasa
Lemas sudah sekujur raga
Jiwa menangispun tampaknya sia-sia
Tak ada yang bisa mengembalikan waktu
Harapan kosong dalam kegamanganku
Cepatlah waktu berlalu,
Kembalikan matahariku..
Bapaku yang bertahta pada Semesta...
Sang Hyang Widi Wasa yang kupuja...
Para Santo dan Santa...
Para Dewa dan Dewi...
Biarkanlah matahariku bersinar lagi
Menghidupi butir-butir jiwaku.
Kabulkanlah doaku...
(C) Mahendraswari-200511
Sesaat matahariku hilang
tiba-tiba dan begitu saja
Aku sesak..
tenggorokanku kering tercekat
udara berhenti mengaliri darahku
menghentikan detak jantungku
Aku histeris tak kuasa
Lemas sudah sekujur raga
Jiwa menangispun tampaknya sia-sia
Tak ada yang bisa mengembalikan waktu
Harapan kosong dalam kegamanganku
Cepatlah waktu berlalu,
Kembalikan matahariku..
Bapaku yang bertahta pada Semesta...
Sang Hyang Widi Wasa yang kupuja...
Para Santo dan Santa...
Para Dewa dan Dewi...
Biarkanlah matahariku bersinar lagi
Menghidupi butir-butir jiwaku.
Kabulkanlah doaku...
(C) Mahendraswari-200511
May 3, 2011
Ajari Aku Berdoa
April 27, 2011
Sore Bersama Guru
Di suatu sore yang hangat, Guru mengajakku berjalan mengelilingi taman. Kami berjalan perlahan sambil membebaskan pandangan dan pendengaran...
Aku menunggu... tapi tak satupun kata meluncur dariNya.
Kami tetap berjalan seiring, menyamakan langkah dengan ringan.
Sayup kudengar nafasNya yang begitu teratur, .........tanpa sadar kuikuti iramaNya.
Masih tak ada kata-kata, meski terkadang Dia melirikku dengan senyuman.
Banyak yang datang dan pergi di otakku, pikiranku mulai penuh dengan gambaran rumit kehidupan.
Aku berusaha melenyapkan... kugantikan dengan heningnya Guruku, dengan sayup nafas Guruku, dan dengan nada berat dari nafasku sendiri...
Perlahan aku menyentuh kemerdekaan, mencapai pikiran hening dan damai.
Suara langkah, suara angin, suara nafas, suara burung, suara air, suara keramaian anak-anak bermain.. menghipnotisku keluar dari segala kerumitan.
Tapi hanya sesaat
Menit-menit berikutnya aku telah kembali dalam kesadaran yang membiru.
Kepalaku kembali penuh kesedihan di masa lalu, kekhawatiran di masa datang.
Begitu banyak manusia datang dan pergi dari pikiranku, perang antara ego mulai terjadi lagi... pikiranku mulai bekerja keras mencari pembenaran atas segala tindakanku... lelahnya aku... aku sudah lupa bahwa aku sedang menyamakan nafas dengan Guruku.
Aku berusaha keras lagi menyingkirkan gambaran-gambaran yang bermunculan di kepala... kutajamkan lagi pendengaran, memfokuskan pandangan pada keindahan sekitar.
Kulirik Guruku, rupanya tanpa sadar aku sudah berjalan sedikit didepan..
Aku kembali menantiNya, aku ingin disisiNya, mendengar lagi nafasNya, menyamakan lagi dengan langkahNya...
Guru menggandeng tanganku, tapi tetap diam, kami telah sampai disisi lain taman... penuh dengan bunga dan rumput, kolam dengan pancuran bambu, pohon besar yang teduh, dan sinar jingga sang surya yang mulai meredup.
Kami berjalan tenang, energi hangat kurasakan dari genggaman tangan Guruku... mengalir ke tanganku dan akhirnya memenuhi seluruh rongga dadaku dan mulai menyebar ke seluruh penjuru tubuhku...
Aku kembali dalam ketenangan, kekosongan, kedamaian, kenyamanan... aku hanya mendengar alam, mendengar langkah kaki kami, mendengar irama nafas....
Aku manusia yang bahagia, aku manusia yang dikasihi, aku manusia yang terbebas dari belenggu duniawi, aku manusia yang menjalani hidup pada saat ini.
Hingga matahari hampir tenggelam, aku baru menyadari betapa dalam yang Guru ajarkan hari ini.
Jesus Guruku... tlah habis juga kataku.
Deo Gratias.
Aku menunggu... tapi tak satupun kata meluncur dariNya.
Kami tetap berjalan seiring, menyamakan langkah dengan ringan.
Sayup kudengar nafasNya yang begitu teratur, .........tanpa sadar kuikuti iramaNya.
Masih tak ada kata-kata, meski terkadang Dia melirikku dengan senyuman.
Banyak yang datang dan pergi di otakku, pikiranku mulai penuh dengan gambaran rumit kehidupan.
Aku berusaha melenyapkan... kugantikan dengan heningnya Guruku, dengan sayup nafas Guruku, dan dengan nada berat dari nafasku sendiri...
Perlahan aku menyentuh kemerdekaan, mencapai pikiran hening dan damai.
Suara langkah, suara angin, suara nafas, suara burung, suara air, suara keramaian anak-anak bermain.. menghipnotisku keluar dari segala kerumitan.
Tapi hanya sesaat
Menit-menit berikutnya aku telah kembali dalam kesadaran yang membiru.
Kepalaku kembali penuh kesedihan di masa lalu, kekhawatiran di masa datang.
Begitu banyak manusia datang dan pergi dari pikiranku, perang antara ego mulai terjadi lagi... pikiranku mulai bekerja keras mencari pembenaran atas segala tindakanku... lelahnya aku... aku sudah lupa bahwa aku sedang menyamakan nafas dengan Guruku.
Aku berusaha keras lagi menyingkirkan gambaran-gambaran yang bermunculan di kepala... kutajamkan lagi pendengaran, memfokuskan pandangan pada keindahan sekitar.
Kulirik Guruku, rupanya tanpa sadar aku sudah berjalan sedikit didepan..
Aku kembali menantiNya, aku ingin disisiNya, mendengar lagi nafasNya, menyamakan lagi dengan langkahNya...
Guru menggandeng tanganku, tapi tetap diam, kami telah sampai disisi lain taman... penuh dengan bunga dan rumput, kolam dengan pancuran bambu, pohon besar yang teduh, dan sinar jingga sang surya yang mulai meredup.
Kami berjalan tenang, energi hangat kurasakan dari genggaman tangan Guruku... mengalir ke tanganku dan akhirnya memenuhi seluruh rongga dadaku dan mulai menyebar ke seluruh penjuru tubuhku...
Aku kembali dalam ketenangan, kekosongan, kedamaian, kenyamanan... aku hanya mendengar alam, mendengar langkah kaki kami, mendengar irama nafas....
Aku manusia yang bahagia, aku manusia yang dikasihi, aku manusia yang terbebas dari belenggu duniawi, aku manusia yang menjalani hidup pada saat ini.
Hingga matahari hampir tenggelam, aku baru menyadari betapa dalam yang Guru ajarkan hari ini.
Jesus Guruku... tlah habis juga kataku.
Deo Gratias.
Subscribe to:
Posts (Atom)
