January 8, 2011

883. Dominus Illuminatio Mea

IN the hour of death, after this life's whim,
When the heart beats low, and the eyes grow dim,
And pain has exhausted every limb—
The lover of the Lord shall trust in Him.

When the will has forgotten the lifelong aim,
And the mind can only disgrace its fame,
And a man is uncertain of his own name—
The power of the Lord shall fill this frame.

When the last sigh is heaved, and the last tear shed,
And the coffin is waiting beside the bed,
And the widow and child forsake the dead—
The angel of the Lord shall lift this head.

For even the purest delight may pall,
And power must fail, and the pride must fall,
And the love of the dearest friends grow small—
But the glory of the Lord is all in all.


Anonymous. c. 19th Cent.
Arthur Quiller-Couch, ed. 1919. The Oxford Book of English Verse: 1250–1900

January 4, 2011

Menyederhanakan Hidup

Ternyata buah dari mandi plus cuci rambut sore ini adalah “pencerahan kamar mandi” hehehehe… kalo boleh aku sebut begitu…
Di pikiranku seperti ada aku yang lain yang sedang bicara tentang menyederhanakan hidup…., dan rumusannya seperti ini :

1. Jika ingin jiwamu bahagia, jangan pernah mengingkari hati kecil, jangan memaksa diri untuk berbuat yang melawan keinginan hati…. Ikuti saja apapun itu sepanjang membuat hatimu lebih seimbang, damai, penuh dan stabil.

2. Jangan memaksakan bertindak atau mengambil keputusan melulu dari otak atau karena kebiasaan/aturan yang banyak orang melakukan… jangan terseret arus kebiasaan… kita adalah individu yang merdeka dan punya keputusan yang merdeka… Ikuti saja kehendak alam… pada dasarnya kita sudah dibekali dengan alarm yang bekerja secara simultan… yaitu antara pikiran dan perasaan… saat kita sanggup menjaga kesadaran tertinggi alarm kita akan bekerja otomatis… dia akan memberi sign pada kita… kapan saatnya kita melakukan atau tidak melakukan… bicara atau tidak bicara… “bacalah alam cari tahu dari jiwa yang terdalam!”

3. Jangan antipati pada seseorang apapun energi yang dia keluarkan, anggaplah dia merupakan bagian dari alam yang sedang memainkan perannya… hadapi orang-orang seperti itu dengan jiwa yang mendarat (sadar), bukan dengan jiwa melayang yang mudah terpancing emosi, gengsi, dan rasa haus ingin dihormati…. Tetap jadi diri pribadi yang sederhana dan mudah diterima (afirmasikan seperti itu)….

4. Jangan menghadapi masalah berat dengan memfokuskan bahwa itu adalah masalah… afirmasikan bahwa masalah itu akan selesai dengan baik tanpa membebani kita atau siapapun juga… minta bantuan pada alam semesta supaya bersatu mewujudkan penyelesaian masalah.

5. Tebarkan cinta untuk semesta, berikan lebih banyak cinta pada yang mencinta….

Senangnya berbagi…. semoga ada manfaatnya… dan bisa menyembuhkan… meskipun kadang dokter justru tak bisa menyembuhkan diri sendiri… hihihihi… peace and love…

Mahendraswari © 04012011

October 28, 2010

Anak yang di surga

Bapa...
betapa lelahnya Kau membangun Firdaus bagi kami,
tujuh hari yang penuh keringat, darah, dan air mata,
demi kami merasai cahaya, air, tanah, cakrawala, semesta dan seisinya.
Itulah Engkau Bapa...
menyembunyikan lelah dari tatapan kami... sang anak...

Bapa, Kau tempatkan kami dengan kasih sayang di dalam Firdaus
tapi kami selalu meneriakiMu
“Bapa yang di Surga”

Hhhmmmfff
kapan kami sadar...
kami ini yang di surga...
Kau puas memandang kami bahagia,
dari satu sudut yang tak terlintas di benak kami

Bapa...
lihatlah FirdausMu
kami menghancurkannya
kami mencemarinya
menistai kesuciannya

Tak ada perhargaan kami atas jerih payahMu
Bapa... kenapa kami seperti ini?
apa yang buat kami selalu jadi sasaran kegelapan...
kenapa kami beringas?
kenapa kami tamak?
kenapa kami sombong?
kenapa kami iri hati?
keinginan liar terus menggerogoti
kami buta dan mulai bunuh diri...

Dengan air mata Kau banjiri Firdaus,
dengan geram Kau goncangkan Firdaus,
dengan luka hatiMu kau koyak tanah, air, angin, dan api di Firdaus....

Bapa, kami menyebut semua ini bencana...

Bapa, Kau hanya ingin membangunkan kami,
Kau ingin kami bersiap dan semakin berjaga,
kegelapan mulai merebut kami dariMu,
dan Engkau hendak membela kami.

Sangka kami Kau marah... makanya kami hanya bersimpuh, menangis, dan meratap.
Padahal Kau hanya mengharap supaya kami mempertahankan jiwa-jiwa murni,
Kau hanya hendak berucap
“Bangun anakKu,jangan lengah.. Aku yang didepanmu dan Aku juga yang dibelakangmu”

Sbab Engkaulah Allah, Awal dan Akhir, Alfa dan Omega.

Hajarlah kami Bapa, hingga benar-benar terbangun dan memakai perisai kami tanda siap berperang.


©Mahendraswari-28/10/2010

October 24, 2010

Dilema dibawah senja (Flashfiction1)


[cahaya sudah jingga... aku masih terduduk di pasir menatap cakrawala..., sunyi buih ombak tak lelah berbisik... sesunyi langit yang tak berbintang... segelap petang yang menantikan hujan]

“Luh De...”
suara yang terdengar berat dan maskulin itu memecahkan keheninganku,
hatiku terkesiap dan hatiku pulalah yang menatapnya seketika,
tapi ragaku masih tak bergeming, mataku tak melepaskan cahaya yang kian jingga di ujung sana.

masih berpikir.... benarkah nama itu yang disebut... benarkah itu aku yang dimaksud?

“Luh...”
ya.. aku semakin yakin... itu aku... dia memanggilku...
aku tetap hening menatap cakrawala, keindahannya menyita panca indera yang merindukan cahaya

“Luh..., maafkan aku... “
Kata-kata itu getir di telinga... air mata leleh tanpa tau maksudnya...

“Luh... hari mulai gelap... kita kembali ke Desa!

Bibirku masih terkunci, bahkan ragaku sudah terpatri, tak ingin aku bergerak lagi... berharap jadi bagian dari bumi... aku merasa tak hidup lagi... tapi kenapa air mata tak henti dan tetap tenang membanjiri.

“Luh... hentikan sedihmu... ini kehendak Sang Hyang Widhi... betapa indah bila kita tetap mengikuti... bahkan kehendak kita takkan lebih indah dari kehendakNya... Dia menginginkan kita Luh... menginginkan kita memahami arti rasa dan mendalamkan pemahaman kita akan keinginan jiwa... tidak semua yang kita inginkan menjadi indah bila terpenuhi... hadapilah kenyataan... Marilah kita pulang dulu, hujan akan turun...”

haruskah aku bahagia atau sedih? bahkan sekarang hati mulai tawar... air mata berhenti perlahan... jiwaku yang melayang mulai mendarat di badan...

Aku mengalah.... kutatap wajahnya yang diterangi cahaya malam.... dia begitu dalam, matanya penuh pengharapan, garis wajahnya kuat, pesona yang terselubungi bingkai... hanya akukah yang mampu menyadari?

Pada akhirnya bibirku mampu mengucap kata... “Bli... hanya dibibir pantai inilah air dan pasir bercengkrama... lihatlah riak-riak buah dari sukacita mereka... begitu indah mengharu... seakan melepas rindu, Bli... aku tak akan pulang ke Desa... aku akan tetap disini menatap cakrawala... dari sana akan datang perahu yang menjemputku.”

[hening]

tak ada satu kalimatpun meluncur dari bibir kami lagi... hanya tatapan yang sama dalam keharuan, dan kilatan tetes air mata yang tertahan. Aku kembali mengalihkan pandangan ke cakrawala... kudengar jejak langkah Bli yang beranjak pergi....

Kuhembuskan nafas dalam-dalam, ada sesak yang harus dilegakan...
Itulah hari saat hati kami telah saling bertukar... pantai akan mempertemukan kami lagi sebagaimana takdir yang tak lelah memisahkan kami. Suksma Bli..


©mahendraswari-29/09/2010

September 13, 2010

Panggil aku "Gayatri"

Gayatri

Mungkinkah ini aku,
Bila aku memejamkan realita...
Bila aku melemaskan airmuka
Bila aku meredupkan tatapan mata
Bila aku hanyut di kedalaman
Bila aku mencari jati diri

Bilakah seseorang yang begitu tegar
dalam kehidupan yang disebut realita
tapi sebenarnya hampa dan itu bukan hatinya??

Aku tak akan menyesali,
saat takdir tlah ditetapkan,
Tapi hati tak seharusnya berpikir
dan hati tak seharusnya memilih,


Sisi jiwa yang penuh dengan hasrat harus diredupkan...
Menulis mungkin bukan priortas untuk waktu yang sekarang...
Saat hasrat melanda, justru tulisanku tak punya jiwa...

Aku terus merindukan kebebasan jiwa,
Sekali lagi hendak menyudutkan realita,
Tapi... aku terus membelenggunya
Wajahku tak henti menegang memandang masa depan...
Beban di pundak tak juga berkurang atas tujuan yang tak boleh diacuhkan...
Kumerdekakan pikiran rasional,
dan kupakai jubah kemaskulinan.
Aku menatap kaca dan tersenyum tipis..
Hanya aku yang tau siapa dibaliknya.

Gayatri...

Saat ini aku disini,
sedikit menghirup nafas kemerdekaan...
Sedikit menilik wajah sang perempuan...
Aku hanya menulis...
Membiarkan sukma mencicip kenikmatan

Tapi aku takkan lama disini,
aku akan segera pergi,
saat bidadari kecil itu memanggilku
"mama"...

Aku akan meniti bayu...
dan aku yakin...
nanti...
bidadari kecil itu akan mengerti
dan siap memanggilku...
"gayatri"...